Beberapa Pertanyaan yang Muncul Mengenai Virus Corona


Semenjak virus corona menyebar, banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari publik mengenai virus corona. Oleh karena itu, saya merangkum beberapa pertanyaan yang muncul ke permukaan berkaitan dengan virus corona ini.

Namun, sebelum saya masuk ke pertanyaan seputar corona, saya akan merangkum percakapan dan tanya jawab yang menarik dari seorang jurnalis dari Narasi Newsroom dengan Dr.Pandu Riono seorang Epidemiolog di  Universitas Indonesia. Berikut rangkumannya

Menurut Dr.Pandu Riono, Ph.D data pasien yang sudah terkena virus COVID-19 ini adalah data dengan angka yang tidak akurat. Karena menurut beliau datanya sudah diswab, yang artinya adalah sebenarnya sudah ada gejala,  lalu  5 hari kemudian baru diumumkan, dan mungkin saja sebagian orang yang diumumkan sudah meninggal karena belum sempat di test. Itulah problem under reported dan underestimate kalau kita (masyarakat Indonesia) hanya mengandalkan data yang dilaporkan  secara resmi oleh juru bicara Kemenkes ata BNPB ini .

Dari percakapan tersebut juga muncul salah satu hal yang menarik yaitu adanya sebuah laporan dari teman-teman di UI bahwa adanya temuan bahwa COVID-19 ini sudah masuk ke Indonesia sejak awal Februari? Apakah benar ?

Sebenarnya kapan virus corona ini masuk ke Indonesia?

Keterangan Gambar : Salah satu Media Indonesia melakukan pemberitaan mengenai kasus virus korona pertama di Indonesia

Banyak ahli melakukan pemodelan dengan memilih waktu ketika terjadi 2 atau 3 orang pertama terdeteksi kasus Covid-19  yang diumumkan oleh Presiden, menurut Dr. Pandu Riono datanya tidak benar, karena sebenarnya kita bisa melihat dari berapa banyak atau kapan sebenarnya orang mulai terinfeksi gejala Covid-19, walaupun pada saat itu hasil testnya masih negatif. Karena menurut Informasi pada awal-awal bulan Januari, Februari itu laboratorium di Indonesia untuk mendeteksi COVID-19 masih belum bisa diandalkan , sehingga banyak false negatif. Tapi orang dengan gejala-gejala COVID-19 sudah terdeteksi di DKI JAKARTA misalnya itu mulai awal Februari sudah terdeteksi dan sudah terjadi peningkatan, dan bisa dipastikan juga bahwa orang Jepang itu sebenarnya tertular di Indonesia, bukannya malah orang jepang itu yang membawa virus ke Indonesia. Jadi pada waktu itu WHO juga sudah mendeklarasi  sudah terjadi penularan lokal di Indonesia. Jadi virus itu sudah beredar di Indonesia cukup lama.

Mengapa Dr.Pandu Riono berasumsi mereka yang mendapatkan hasil negatif di bulan Febuari itu mestinya dinyatakan positif ?
Karena itu sudah dengan gejala COVID-19 . Jadi sistem surveillance pemantauan penyakit itu sudah mencatat ada orang dengan keluhan demam, batuk yang tidak bisa diobati dengan pengobatan biasa. Ini yang membuat kecurigaan pertama maka dari itu kita laporkan sebagai suspect COVID-19 . kenapa masih suspect ? Karena hasilnya masih negatif, tapi hasil negatif itu ternyata terbukti karena laboratorium kita belum cukup mampu mendeteksi .

Dr.Pandu Riono juga berpesan “sangat berbahaya kalau data para epidemiolog atau para ahli hanya menggunakan data resmi dari pemerintah, karena data itu adalah data yang Underestimate dan Under Reported , seakan-akan angka masalahnya cuma segitu saja, karena semustinya orang yang terinfeksi adalah 10 atau 20 kali lipat lebih besar”.

Diluar dari rangkuman yang menarik antara jurnalis tersebut dengan Dr. Pandu Riono, saya juag merangkum beberapa pertanyaan umum lainnya mengenai virus corona.

Bagaimana Virus korona menyebar?
Pasien yang terjangkit COVID-19 disebabkan oleh masuknya tetesan kecil atau droplet ke hidung dan mulut. Tetesan kecil berasal dari bersin dan batuh oleh penderita COVID-19 lalu tersebar melalui barang-barang yang telah disentuh oleh orang yang terjangkit COVID-19. Tetesan kecil ini juga bisa disebarkan melalui udara disekitar setelah bersin ataupun batuk. Maka disarankan untuk mencuci tangan dan menjaga jarak minimal 1 meter dengan orang yang menderita atau terduga COVID-19.

Apakah Virus dapat disebarkan melalui udara?
Menurut data penularan melalui udara presentasenya sangat kecil dibandingkan penularan melalui barang yang telah disentuh oleh pasien COVID-19.

Apakah COVID-19 dapat ditularkan oleh orang yang tidak memiliki gejala ?
Mayoritas pasien yang terkena COVID-19 karena masuknya tetesan kecil dari pasien yang batuk atau bersin. Presentase pasien yang ditularkan oleh orang yang tidak memiliki gejala sangatlah sedikit. Akan tetapi pasien banyak tertular oleh orang yang memiliki gejala minor dan tidak merasa seperti sedang sakit.

Apakah COVID-19 dapat ditularkan dari feses pasien?
Resiko penularan malalui feses pasien COVID-19 sangat kecil. Menurut penelitian beberapa feses pasien mengandung korona tetapi penularan melalui feses bukanlah penyebab utama penyebaran ataupun pandemik yang terjadi. Tetapi disarankan untuk selalu menjaga kebersihan kamar mandi untuk mencegah terjadinya penyebaran.

Berapa lama virus bertahan pada permukaan benda-benda?
Menurut data penelitian awal virus dapat bertahan beberapa jam sampai beberapa hari. Sulit untuk mengetahui pasti berapa lama virus bertahan pada permukaan benda tertentu,  karena beberapa faktor yang saling berkaitan seperti jenis benda, suhu ruang, kelembapan dan faktor lainnya.
Jika ditemukan benda yang terinfeksi virus dapat disterilkan mengunakan desinfektan, usahakan jangan menyentuh wajah dan langsung mencuci tangan.

Apakah hewan peliharaan dapat terjangkit dan menularkan COVID-19?


Menurut data yang didapat bahwa 2 anjing yang tinggal 1 atap di Hong Kong terjangkit virus ini karena tinggal dengan majikan yang terinfeksi COVID-19. Akan tetapi pemerintah Hong Kong melakukan test hewan peliharaan terhadap 17 pasien COVID-19 dan hanya ditemukan 2 anjing tersebut. Pemerintah Hong Kong mengemukakan bahwa hewan peliharaan sangat jarang terjangkit virus ini. Seekor harimau di kebun binatang Bronx juga terjangkit COVID-19 akan tetapi harimau dengan kucing peliharaan sangatlah berbeda sehingga pihak kebun binatang dan dokter hewan menyampaikan bahwa kecil kemungkinan hewan peliharaan terjangkit virus ini.

Untuk penularan WHO mengemukakan bahwa tidak ditemukan pasien COVID-19 yang tertular oleh hewan peliharaan dan memerlukan penelitian lebih lanjut mengetahui penularan hewan peliharaan ke manusia.   

Dari berbagai pertanyaan yang menarik mengenai virus corona di atas tersebut, jangan lupa untuk tetap menjaga kesehatan tubuh kita dan sering mencuci tangan serta memakai masker bila anda diharuskan untuk keluar rumah. Kebutuhan APD berupa masker dan perlengkapan medis lainnya di Indonesia semakin sulit didapatkan. Oleh karena itu, PT. Shan Hai Map menjadi salah satu supplier APD untuk kebutuhan anda. Untuk informasi lebih lanjut mengenai APD tersebut, jangan ragu untuk menghubungi Livia (0812 1220 6429).

Sumber : Narasi Newsroom (https://youtu.be/GuJtjE1wHXA)

Gambar di atas merupakan Sistem Order kami Uchannel https://uchannel.yonyoucloud.com/

Pemilihan produk APD juga di seleksi oleh PT. Shan Hai Map, produk-produk dengan standarisasi yang baik dan bersertifikat asli dipilih sebagai partner kami untuk menyediakan APD yang layak bagai masyarakat Indonesia. Salah satunya adalah pabrik asal China yaitu Biobase Scientific (Shandong).Co.,Ltd. 

Comments

Popular posts from this blog

KN95 Bisa Menjadi Pengganti N95 untuk Tenaga Medis

Jangan salah lagi! Simak baik baik perbedaan antara MERS-CoV dan COVID-19!

Perbedaan Antara Pakaian APD Medis dan APD Gaun Isolasi